Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Jude Bellingham Kecam Wasit Semifinal Euro 2024

ERY | Rabu, 10 Juli 2024
Jude Bellingham Kecam Wasit Semifinal Euro 2024
Jude Bellingham - Net
-

RN - Penggemar Three Lions sedang galau lantaran sudah mengetahui siapa wasit yang memimpin Belanda kontra Inggris di semifinal Euro 2024, Kamis, 11 Juli 2024, dini hari WIB.

Felix Zwayer dipastikan akan memimpin Belanda vs Inggris. Masalahnya, sang pengadil pernah dikecam Jude Bellingham ketika masih di Borussia Dortmund karena terlibat pengaturan skor.

Wasit asal Jerman itu juga punya rekam jejak negatif. Zwayer pernah dilarang memimpin selama enam bulan pada 2005 karena kedapatan menerima suap dari wasit lain, Robert Hoyzer, sebesar 250 Poundsterling.

BERITA TERKAIT :
Cristiano Ronaldo Pecahkan Rekor Baru Berkat Mbappe
Vitor Roque Jadi Pemain Tumbalan Barcelona

Bellingham kemudian berjumpa Zwayer saat Dortmund melawan Bayern Munchen pada 2011. Saat itu, Bellingham masih berusia 18 tahun.

Dia marah besar kepada Zwayer yang tidak memberikan penalti kepada Dortmund dan malah menghadiahi Munchen tembakan 12 pas.

"Anda dapat melihat banyak keputusan dalam pertandingan itu. Anda memberikan wasit yang telah mengatur pertandingan sebelum pertandingan terbesar di Jerman. Apa yang kamu harapkan?" kata Bellingham kala itu.

Alhasil, Dortmund kalah 2-3 dari Bayern Munchen. Komentar pedas Bellingham pun malah melahirkan sanksi untuknya. Bellingham didenda 34.000 Poundsterling karena mengamuk kepada Zwayer.

Meski demikian, salah satu penggawa senior Inggris, Luke Shaw, menegaskan pilihan UEFA soal siapa yang memimpin semifinal Euro 2024 tidak akan mepengaruhi sikap Three Lions terhadap Belanda.

"Kami harus menghormati UEFA terhadap siapa pun yang mereka pilih sebagai wasit," ucap Luke Shaw.

"Itu tidak akan mengubah apa pun dari diri kami. Kami tetap hanya fokus pada pertandingan yang ada, tidak terlalu memikirkan wasit yang diberikan kepada kami atau ini dan itu. Bagi kami, itu tidak akan ada bedanya," sambung Luke Shaw.

Sementara itu, Zwayer memang terkenal sebagai wasit bermasalah. Setelah kasus suap pada 2005, dia dilempar ke divisi dua liga Jerman atau 2. Bundesliga.

Dia dan empat wasit lainnya mengungkapkan hubungan tidak benar Hoyzer dengan sindikat perjudian Kroasia yang berbasis di Berlin. Hoyzer dipenjara dan dijatuhi hukuman larangan seumur hidup.

Namun, Zwayer juga dihukum setelah mengaku menerima suap sebesar 250 pound dari Hoyzer.

Hanya saja, kasus Zwayer dirahasiakan oleh otoritas sepak bola Jerman. Empat tahun kemudian, ia dipromosikan ke Bundesliga dan masuk daftar wasit dunia FIFA pada 2012.

Zwayer akan kembali berjumpa Bellingham di Stadion BVB Dortmund. Setelah pertengkaran mereka pada 2021, Zwayer mengambil cuti selama dua bulan sebelum kembali beraksi.

Fans Inggris sempat memberikan kecaman kepada petinggi UEFA atas pemilihan Zwayer sebagai pengadil di semifinal.

John Millar, pensiunan pejabat berusia 67 tahun dari kota asal Bellingham, Stourbridge, West Mids, salah satu orang yang memberi teguran keras kepada UEFA.

"Ini bertentangan dengan logika. Bagaimana bisa seorang wasit yang berselisih dengan pemain terbaik kami soal pengaturan skor bisa mengambil alih tugas melawan Belanda."

"Mengapa dia malah diperbolehkan menjadi wasit? Bagaimana dia bisa benar-benar netral dan apa yang sedang dipermainkan UEFA?" kata Millar.

Pekerja layanan penjara, Richard Wilson dari Teddington, London Barat Daya, setali tiga uang. "Dengan begitu banyak wasit yang berpengalaman dan tidak memihak di dunia, mengapa memilih yang ini?" tanya Wilson heran.

"Jika dia diskors karena terkait pengaturan skor, Anda harus bertanya mengapa dia diizinkan menjadi wasit lagi."

"Mengapa membiarkan dia memimpin pertandingan besar yang melibatkan pemain yang didenda karena mengkritiknya. Semuanya akan menjadi sangat buruk," ujar Wilson, seperti dilansir dari The Sun.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari UEFA terkait pemilihan Zwayer.