Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

CPPS: Airlangga - Ganjar Bisa Jadi Duet Maut di Pilpres 2024

YDH | Kamis, 25 November 2021 - 10:26 WIB
CPPS: Airlangga - Ganjar Bisa Jadi Duet Maut di Pilpres 2024
-

RN - Direktur Eksekutif Center for Public Policy Studies (CPPS) Indonesia, Bambang Istianto menilai bahwa Menko Perekonomian yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto cocok diduetkan dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Elektabilitas Airlangga yang dikenal sebagai teknokrat humble bisa ikut terangkat. Mengungguli pasangan siapa pun di Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024 nanti.

"Sebagai pemimpin Parpol, Airlangga telah teruji. Dia terbukti mampu menghadapi gejolak partainya dengan cara elegan, kondusif, dan demokratis. Ini menjadi nilai tambah yang dimiliki Airlangga untuk diperhitungkan di Pilpres mendatang," jelas Bambang.

BERITA TERKAIT :
Janet Aprilia Stanzah Gagas Rumah Rakyat Kreatif JASMERAH Kota Bekasi
Muslim Jaya Butarbutar: Rapat Pleno Pengurus ICMI Kota Bekasi Tidak Sah dan Melanggar AD-ART

Bambang pun lantas membandingkan kepemimpinan partai Airlangga dengan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra.

"Kalau Prabowo, tantangan memimpin partainya relatif kecil. Sistem Partai Gerindra itu bergaya komando dan sentralistik, serta mencerminkan kurang demokratis," bebernya.

Tak hanya itu, Bambang juga membandingkan lagi dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang juga marak disebut dalam bursa Capres 2024.

"Anies minim pengalaman memimpin sebuah organisasi politik, yang tensi konfliknya sangat tinggi. Dalam manajemen konflik, belum teruji seperti Airlangga. Sekalipun dia telah memiliki sejarah di birokrasi pemerintahan," jelas Bambang.

Ia pun melanjutkan perbandingannya dengan nama-nama yang ramai disebut sebagai pendamping calon presiden. Misalnya, politisi PDIP Puan Maharani.

Meski pernah beberapa kali menduduki posisi strategis semacam Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Ketua DPR, dan Wakil Ketua Umum Partai, Puan belum menunjukkan prestasi yang menonjol.

Selain itu, Bambang menilai Puan cenderung nyaman dengan kemewahan, dan tidak dekat dengan rakyat kecil.

Sementara, Capres lain seperti Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, dinilainya minim pengalaman di lapangan. Baik di birokrasi atau politik parlemen. Sehingga, sering disebut sebagai pemimpin yang prematur.

"Memang cerdas dan ketum partai, tapi minim pengalaman," cetus Bambang.

Beda dengan Ganjar. Bambang menyebutnya paket komplit. Berpengalaman di birokrasi sebagai gubernur, serta politik praktis sebagai pengurus partai dan anggota DPR.

"Sangat tepat bila Ganjar mendampingi Airlangga. Meski kemungkinan, ia akan kehilangan rumah partai bernaungnya," terang Bambang.

Bambang meyakini, Airlangga yang kini menakhodai partai besar di samping menjabat Menko Perekonomian,  mampu melakukan perubahan fundamental terhadap kondisi Ipoleksosbud Hankam di tengah distorsi yang cukup mengkhawatirkan.

"Di samping kepiawaiannya mengendalikan kekuatan politik besar Partai Golkar, yang masih solid dan kondusif, Airlangga memiliki segudang pengalaman di birokrasi pemerintahan, yang dapat membawa Indonesia keluar dari krisis dengan soft landing tanpa kegaduhan," tutur Bambang.

Dengan alasan tersebut, Bambang menilai duet Airlangga-Ganjar sangat strategis. Patut diperhitungkan. Sebab keduanya memiliki basis massa yang kuat, dari dua partai besar tempat mereka bernaung.

Meskipun posisi Ganjar di partai sedang di ujung tanduk, kemungkinan bisa kena persona non grata, tetapi elektabilitasnya masih moncer pada posisi tiga besar antara Prabowo, Ganjar dan Anies," pungkas Bambang.