Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Harga Cabai Di Jakarta Makin Pedas, Emak-Emak Minta Caleg PAN Ingatkan Mendag

RN/NS | Senin, 11 Desember 2023
Harga Cabai Di Jakarta Makin Pedas, Emak-Emak Minta Caleg PAN Ingatkan Mendag
Mendag Zulhas saat cek harga cabai.
-

RN - Harga cabai makin pedas. Saat ini harga cabai rawit merah sudah menyentuh harga Rp 120 ribu per kg. 

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga cabai rawit merah di Jakarta Barat bahkan telah menembus Rp 130 ribu per kg.

"Pusing harga cabai sampe 120 ribu sekilo. Katanya bisa naik lagi nih," tegas Sumini warga Cengkareng, Jakbar, Minggu (10/12). 

BERITA TERKAIT :
Sanksi Untuk Gibran Cemen, Bawaslu Jakpus Cuci Tangan Dan Buang Badan Ke HBH 
Candaan Zulhas Soal Sholat, Segera Usut Ketua Umum PAN...

Emak dua anak ini meminta kepada pemerintah dan menteri konsen kerja. "Jangan urus politik, rakyat lagi susah nih," keluhnya. 

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan yang juga Ketua Umum PAN sebelumnya berjanji akan mencari cara agar harga cabai bisa diatasi, karena akan mempengaruhi inflasi.

"Emang caleg PAN gak bisa ya bilangin ke menteri-nya, kalau harga cabai mahal. Kita mah ogah milih lha urus cabai aja berantakan," ungkap Fitri warga Senen, Jakpus.  

Ketua Umum DPP Ikatan Pedagang pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menerangkan, tingginya harga cabai sudah ia proyeksikan jauh-jauh hari. Dia mengatakan, harga cabai sudah tinggi dalam 3 bulan terakhir.

"Sebenarnya ini sudah kami perkirakan jauh-jauh hari dan harga ini kan sebenarnya sudah berlangsung kurang lebih 3 bulan terakhir," katanya dikutip detikcom, Minggu (10/12/2023).

Ia juga memperkirakan harga cabai akan tetap tinggi hingga Natal dan Tahun Baru (Nataru) selesai. Ia memprediksi harga cabai mulai landai di pertengahan atau akhir Januari 2024.

Lanjutnya, tingginya harga cabai saat ini belum dipengaruhi oleh kenaikan permintaan. Dia memperkirakan, harga cabai masih akan meningkat jelang Nataru.

"Ini saja, belum ada kenaikan permintaan di Nataru. Kami prediksi permintaan Nataru, satu minggu sebelum Natal, paling nggak 3 hari sebelum Natal, puncaknya sebenarnya di 1-2 hari sebelum Natal, tapi tinggi-tingginya permintaan itu 3 hari sebelum Natal. Begitu juga Tahun Baru," jelasnya.

Menurutnya, pemerintah harus segera mengantisipasi tingginya harga cabai tersebut. Salah satu caranya ialah memberikan subsidi distribusi kepada wilayah-wilayah yang harga cabainya tinggi dan kebutuhannya cukup besar seperti Jabodetabek.

Dikutip dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga rata-rata nasional cabai rawit merah Rp 91.150 per kg. Khusus DKI Jakarta, harga cabai rawit merah menembus angka Rp 110.310 per kg.

Adapun rinciannya, Kabupaten Kepulauan Seribu Rp 100.000 per kg, Kota Jakarta Selatan Rp 100.000 per kg, Jakarta Timur Rp 120.000 per kg, Jakarta Pusat Rp 110.000 per kg, Jakarta Barat Rp 130.000 per kg, dan Jakarta Utara Rp 105.000 per kg.

Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) Ngadiran membenarkan jika harga cabai sangat tinggi. Dia menuturkan, harga cabai standarnya Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kg. Dia mengatakan, harga cabai saat ini telah menembus Rp 120 ribu per kg.

"Saat ini Rp 100 ribu bahkan ada yang sudah Rp 120 ribu, ini terlalu banget terus menteri (dinas terkait) bisa apa? Ikut ngeluh doang," katanya melalui pesan singkat.

Seperti diberitakan, Mendag Zulkifli Hasan alias Zulhas mengatakan masih terus cari jalan agar cabai bisa diatasi. "Karena akan berpengaruh ke inflasi, walaupun memang setiap Desember begitu," kata Zulhas usai meninjau Pasar Johar Baru, Senin (4/12/2023).

Untuk itu, Zulhas meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta memberikan subsidi ongkos kirim dari sentra produksi cabai, agar harganya cabai di DKI Jakarta bisa turun.

"Oleh karena itu, saya minta dari pemda di grosirnya itu ongkos angkutnya ditanggung oleh pemda, sehingga bisa turun. Tapi kan ini tanggung, tadi kita lihat jualannya sekilo-sekilo gitu. Ya kalau sekilo kan susah, bagaimana subsidinya. Sedikit-sedikit," ungkap Zulhas.