Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Jangan Sampai Jakarta Dicap Ibu Kota Bebas Seks 

RN/NS | Jumat, 02 Desember 2022
Jangan Sampai Jakarta Dicap Ibu Kota Bebas Seks 
Ilustrasi
-

RN - Jumlah anak kena HIV dan AIDS di Jakarta ternyata sampai belasan orang. Jika ini didiamkan maka bisa menimbulkan opini buruk. 

Jangan sampai Jakarta sebagai ibu kota masuk katagori bebas seks. Jumlah anak dengan HIV baru yakni berusia di bawah empat tahun paling tinggi tercatat pada 2018 mencapai 106 anak. 

Tahun 2019 menurun menjadi 73 anak, 2020 sebanyak 35 anak dan 2021 sebanyak 39 anak. Berdasarkan data kaskade HIV atau kasus kumulatif hingga Juni 2022 estimasi ODHIV di DKI Jakarta diperkirakan 65.916 orang.

BERITA TERKAIT :
Bank DKI Peduli Berikan Bantuan ADHIV Melalui Komisi Penanggulangan AIDS DKI
HIV Dan AIDS Naik, LGBT Marak Di Kota Depok

Dari jumlah itu, orang dengan HIV mencapai 66.523 kasus yang sebanyak 47 persen di antaranya atau sekitar 30.850 kasus yang rutin dalam terapi obat Antiretroviral (ARV). Adapun estimasi ODHIV di Jakarta itu mencapai 12 persen dari estimasi orang dengan HIV di Indonesia mencapai 543.100 orang.

Sementara Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta meminta ibu hamil melakukan deteksi dini untuk mencegah penularan penyakit Human Imunodefisiensi Virus-Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) pada anak yang ada di dalam kandungan. Hal itu agar diketahui apakah bayi yang dilahirkan tertular atau tidak.

"Kemungkinan besar anak HIV positif karena mayoritas penularan ibu ke bayi saat dalam kandungan atau saat proses persalinan sehingga penting deteksi saat masih mengandung," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI, Dwi Oktavia dalam diskusi terkait HIV/AIDS pada anak di Jakarta, Kamis (1/12/2022).

Menurut dia, pemeriksaan kesehatan pada ibu hamil paling sedikit satu kali pada masa kehamilan. 

Dwi menjelaskan, deteksi juga dapat dilakukan kepada pasangan calon pengantin untuk memeriksa kesehatan sebelum melangsungkan pernikahan, di antaranya sifilis, HIV, dan hepatitis B melalui puskesmas gratis.

Upaya lain untuk mencegah penularan pada anak, di antaranya meningkatkan pengetahuan dan peran masyarakat, melakukan pengawasan soal analisis data ibu hamil dan anak. Kegiatan pencegahan juga dilakukan hingga tahap penanganan kasus, yakni bagi ibu hamil sampai menyusui yang terinfeksi HIV, sifilis, dan hepatitis B.

Dinkes DKI mencatat kesadaran warga DKI Jakarta untuk melakukan tes HIV setiap tahun cukup tinggi rata-rata sekitar 400 ribu tes. Meski tinggi, namun Dwi meminta angka itu tidak menjadi acuan kasus HIV karena penyakit tersebut seperti fenomena gunung es yang hanya diketahui di ujung sedangkan diperkirakan masih banyak belum melakukan tes.

#SeksDKI   #HIV   #AIDS