Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Nasib Pejuang Corona, Dimaki Hingga Dilumuri Kotoran 'Tokai'

NS/RN/NET | Jumat, 02 Oktober 2020
Nasib Pejuang Corona, Dimaki Hingga Dilumuri Kotoran 'Tokai'
Petugas medis yang dilempari kotoran manusia.
-

RADAR NONSTOP - Nasib tim medis para pejuang Corona memang mengenaskan. Sudah jarang pulang dan rawan kena Corona, para pejuang itu juga sering dimaki-maki. 

Bahkan, ada juga emosi keluarga pasien yang langsung meluri kotoran manusia alias tokai. Seperti dialami tiga petugas Satgas COVID-19 di Surabaya.

Tiga pejuang itu dilumuri kotoran oleh istri pasien positif COVID-19. Selain itu mereka juga diancam dan dimaki-maki.

BERITA TERKAIT :
Kemenkes Ngaku Salah Transfer, Nakes Bingung Disuruh Balikin Duit Insentif Corona
Ini 10 Daerah Bandel Yang Belum Bayar Honor Pejuang Corona 

Koordinator Tim Surveillance Puskesmas Sememi, Cholik anwar (38) merupakan salah satu petugas yang mendapat perlakukan tidak menyenangkan itu. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (29/9) sekitar pukul 15.30 WIB.

Saat itu ia bersama tim hendak melakukan evakuasi pasien positif COVID-19 di Rusun Bandarejo ke Rumah Sakit BDH. Sebab pasien memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Namun dalam proses evakuasi, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari istri pasien. Yang bersangkutan mengusapkan kotoran ke hazmat Anwar, anggota Linmas dan sang driver. Sementara bidan Kelurahan Sememi sempat menghindar.

Hingga saat ini, mereka belum tahu alasan perempuan tersebut mengusapkan kotoran ke baju petugas. Padahal mereka hendak membantu suaminya yang memiliki komorbid agar segera mendapat perawatan medis.

Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara menyampaikan kronologinya. Menurutnya, Pemkot Surabaya menggelar tes swab massal untuk penghuni Rusun Bandarejo, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo pada Rabu (23/9). Hasil tes swab keluar lima hari kemudian.

"Pada saat tes swab massal kepada Bapak X. Namun saat itu, petugas datang keluarganya tidak berada di rumah (rusun). Yang ada hanya Pak X saja," kata Febri, Rabu (30/9/2020).

Ketika hasil tes swab keluar, Bapak X tersebut dinyatakan positif COVID-19. Satgas COVID-19 dari Puskesmas Sememi kemudian melakukan tracing kepada yang pernah kontak erat dengan pasien positif tersebut.

Petugas mendapati fakta bahwa yang bersangkutan tinggal bersama dengan istri dan dua anaknya. "Ternyata, Bapak tersebut memiliki komorbid dan menurut petugas itu membahayakan kesehatan pribadinya. Sehingga mau nggak mau harus dirujuk ke Rumah Sakit BDH. Namun teman-teman tracing ini tidak mudah, salah satu anaknya melakukan penolakan," ungkap Febri.

Keesokan harinya yakni Selasa (29/9), Satgas COVID-19 datang kembali untuk melakukan mediasi, dengan harapan keluarga tersebut mengizinkan pasien dirujuk ke RS BDH, yang berada di Benowo. Febri menjelaskan, setelah mediasi, akhirnya petugas mendapatkan kesepakatan. Sang anak memberikan izin kepada petugas untuk membawa ayahnya dirawat di rumah sakit.

"Ada kesepakatan (pihak keluarga), oke bersedia. Anak pertamanya bersedia, welcome karena sudah diberi penjelasan oleh satgas untuk dirujuk. Karena mengingat ada komorbidnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," imbuh Febri.