Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Merawat Persatuan dan Persaudaraan Sesama Muslim

RN | Senin, 18 April 2022
Merawat Persatuan dan Persaudaraan Sesama Muslim
Drs. Aam Ruswana, M.Kes, Pengajar URINDO Jakarta, STIA Bekasi, MTsN 6 Jakarta.
-

Dalam riwayat Imam Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menceritakan: Suatu hari, seseorang melakukan perjalanan untuk mengunjungi saudaranya yang tinggal di suatu negeri, maka , Allah mengutus malaikat untuk mencegatnya di suatu tempat, ketika orang tersebut sampai, malaikat itu bertanya, hendak kemanakah engkau, wahai hamba Allah?

“Aku hendak mengunjungi saudaraku yang tinggal di negeri ini, jawab orang itu. Malaikat bertanya lagi, apakah kamu punya kepentingan duniawi yang diharapkan darinya ? Orang itu menjawab, tidak, kecuali sebab aku mencintainya karena Allah’ Malaikat itu lantas mengabarkan, sesunggunya aku adalah utusan Allah, yang dikirim kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu seperti engkau mencintai saudaramu itu.”

Menjulurkan cinta kepada manusia karena Allah, maka akan mengundang rahman dan kasih sayang Allah SWT. di dunia kita mendapat cinta-Nya, dan di akhirat nanti, mendapat beraneka kebaikan dan kenikmatan tiada tara yang telah Alloh sediakan.

BERITA TERKAIT :
Merajut Tali Silaturahmi Pasca Pesta Demokrasi
Khofifah: Tak Ada yang Patut Dicurigai, Kecuali yang Memang Hatinya Curiga

Apabila Allah sudah mencintai hambanya, maka Alloh akan memberi lebih dari apa yang diminta. Umpama seseorang sudah cinta maka jangankan yang diminta tidak dimintapun ketika orang yang dicintanya butuh sesuatu maka akan diberikannya. Apalagi Allah Dzat Yang Maha Tahu, Yang Maha Kaya, Yang Maha Kuasa, yang menggenggam alam dan isinya sangat mudah bagi Allah untuk memberikan apa saja kepada hamba yang dicintainya sesuai kehendak-Nya.

Jerih payah kebaikan karena cinta bukan hanya di dapat saat kita di dunia, melainkan melintas hingga di akhirat nanti sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits Abu Daud, dikatakan : Rasulullah menyampaikan; Sesunggunya diantara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan nabi dan bukan pula syuhada.”  para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di akhirat nanti, disebabkan kedudukan yang diberikan Alloh kepada mereka”. Para sahabat penasaran kemudian bertanya kepada Rasulullah saw.  “siapa mereka ya Rasulullah ? Rasul menjelaskan, “mereka itu adalah segolongan manusia yang saling mencintai karena Allah (karena keimanan dan ketakwaan kepada Allah )  Bukan kekerabatan dan darah. Bukan pula karena pemberian harta.” 

Demi Allah, wajah mereka pada hari itu bersinar cemerlang dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa khawatir saat manusia lain ketakutan . Dan, mereka tidak bersedih ketika manusia lain berduka.

Beruntunglah orang-orang yang menjalin persahabatan dan pertemanan karena Alloh. Interaksi apapun dan dimanapun, yang mengikat di hati dengan kesadaran diri tidak lain menjulur  cinta  karena Allah SWT.

Lalu bagaimana persaudaraan kita saat ini, apakah telah mencerminkan sikap yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang soleh atau mungkin sebaliknya ?

Kita lihat Fenomena saat ini, persaudaraan sesama muslim di media sosial atau didunia nyata hampir pudar dan terpecah belah; karena perbedaan organisasi, perbedaan pandangan politik, perbedaan Imam mazhab menyebabkan timbulnya perpecahan, timbul persangkaan-persangkaan yang tidak baik, saling menyalahkan, caci maki, saling menghujat, merasa golongannya yang paling benar.

Padahal kalau kembali kepada sandaran utama kita yaitu Al Qur’an Allah SWT menegaskan melalui firman-Nya :Al Anfal : 46

Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. 

Islam merupakan agama yang berisi panduan akhlak atau tingkah laku terbaik bagi manusia. Islam adalah agama keselamatan dan perdamaian, dan bukan agama peperangan.

Allah SWT dengan tegas menyuruh kita umat islam agar bersatu padu di bawah naungan panji islam yang di dalamnya terkandung nikmat sangat banyak yang telah dilimpahkan oleh-Nya kepada kita sekalian dalam segala aspek kehidupan.

karena dengan persatuan, kita menjadi kuat dan sanggup menegakkan ketentuan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. lnilah prinsip kehidupan beragama yang harus kita pelihara dan rawat bersama-sama dengan baik.

Sebaliknya kalau umat Islam tidak bersatu, terpecah belah, tidak solid dan terkotak kotak akibat adanya perbedaan pandangan politik, beda baju organisasi, berebut dunia meninggalkan urusan agama dan kebaikan akhirat, maka hal ini akan menimbulkan disintegrasi dikalangan umat Islam dan lemahnya kekuatan serta terurainya simpul-simpul persaudaraan sesama muslim. Seperti yang disinyalir oleh baginda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Abu daud: “Akan datang suatu masa, umat lain akan memperebutkan kalian, ibarat orang-orang yang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan. Sahabat bertanya, “Apakah pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, ”Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kalian saat itu banyak, tetapi kualitas kalian ibarat buih yang terapung-apung di atas air bah dan Allah akan mencabut wibawa kalian atas musuh kalian serta jiwa kalian akan tertanam wahn (kelemahan jiwa). Sahabat bertanya,”Apa yang dimaksud kelemahan jiwa ya Rasulallah?” Beliau menjawab, قَالَحُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْت yaitu cinta dunia dan takut mati.” ( HR. Abu Daud)

Menurut cendikiawan muslim Turki, Muhammad Fethullah Gulen dari hadits tersebut dapat dipelajari bahwa kelak akan datang suatu masa ketika bangsa-bangsa di dunia bersekutu dan memusuhi umat Islam. Kemudian mereka mengambil semua kekayaan yang menjadi hak umat Islam untuk dibagikan dikalangan mereka.

Mengapa ini terjadi ? karena kita tidak lagi satu umat/ umatan wahidatan. Yang memiliki akar kuat laksana pohon yang kokoh, melainkan menjadi seperti buih yang diobang ambing gelombang. Ketika perselisihan idiologi dan emosional telah merobek-robek kita menjadi kelompok-kelompok kecil yang tidak memiliki kekuatan. Maka Allah mengingatkan kepada kita dengan firman-NYa

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ( Al Anfal 46 )

Bagaiman panduan Islam dalam menghadapi situasi itu:

1. Ummat Islam harus bersatu

Tidak akan ada kemenangan tanpa ada kekuatan dan tidak ada kekuatan tanpa adanya persatuan.

Ditimpakan atas mereka kehinaan, dimana saja mereka berada, melainkan (mereka) yang menjalin hubungan baik dengan Allah dan hubungan dengan manusia.” (Ali Imran ayat 112)

A. Menjalin hubungan baik dengan Alloh . 

1. Beriman kepada-Nya 2. Menyembah-Nya 3. Tidak menyekutukan-Nya 4. Memohon pertolongan hanya kepada-Nya

B. Menjalin hubungan baik dengan sesama manusia

1. Dengan melakukan ta’aruf, saling sayang menyayangi

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ( Al Hujurat 13 )

Apabila ketakwaan yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang maka kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi orang-orang yang baik. berbuat baik kepada manusia, apapun, siapa pun dari golongan manapun dan akan saling sayang menyayangi, tolong-menolong dalam kebaikan,  tidak hanya terbatas pada sesama umat muslim tapi dengan umat manusia dimana saja berada.

2. Merajut tali kasih dengan sesama umat Islam. 

Sesungguhnya mukmin dengan mukmin itu bersaudara…( Al Hujurat 10 )

Memiliki 3 prinsip :

1. Bersatu dalam usul (pokok-pokok Agama : Aqidah, syariah dan akhlak)

Selama aqidahnya sama memiliki keimanan yang benar terangkum dalam rukun Iman, syaraihnya sama. Sama-sama menjalankan rukun Islam dan Menjunjung tinggi akhlak mulia, mencontoh akhlak nabi Muhammad SAW. Mereka adalah saudara  seagama. Tidak sepatutunya bermusuhan.

2. Toleransi dalam khilafiah

Toleransi tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan beragama, sebagaimana keyakinan agama tidak boleh dikorbankan demi toleransi.

Akan tetapi dalam masalah khilafiah dikalangan umat Islam kita harus mengedepankan toleransi/ tasamuh.

Toleransi dalam khilafiah adalah sikap membiarkan, menghormati pendapat muslim  lain yang tidak sejalan dengan pendapat kita dalam hal-hal yang furu  ( M Qurais Sihab )

Firman Alloh SWT. Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan.” ( saba : 25 )

Biarlah kita berbeda sambil menyerahkan kepada Allah untuk memutuskan pada hari kemudian siapa diantara kita yang benar, tanpa saling mempersalahkan dalam kehidupan dunia ini. Apabila kita bisa rukun dan saling menjaga dengan agama lain, mengapa kita tidak bisa rukun dengan sesama umat Islam. Bukankah kita adalah umat yang satu dan bersaudara. Ummatan waahidatan.

3. Berjamaah dalam ibadah.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap segala bentuk kemunkaran, tetapi berkasih sayang sesama mereka.(umat muslim ) Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. ( Al Fath : 29 )

Apapun baju organisasinya, apapun jabatan dan kedudukannya, siapa pun saudara dan kerabatnya dari kalangan kaya atau miskin, dari kalangan konglomerat atau rakyat jelata. Dari kalangan santri atau kiyai, Kita adalah bersaudara; saudara seagama, saudara seiman, saudara sebangsa dan setanah air. Mari ruku, sujud bersama mengharap ridlo Allah SWT. Lebih-lebih saat ini kita sedang berada di bulan ramadhan, bulan penuh keberkahan dan taburan rahmat. Kita eratkan tali ukhuwah Islamiah, tebarkan kedamaian, tanggalkan arogansi dan ashobiyah( kebanggaan, fanatisme golongan dan suku). Kita satukan derap dan langkah, saling bahu membahu  sebagai penanda bahwa kita adalah ummat yang satu dan bersaudara, sudah waktunya umat Islam bersatu, bangkit, bergandeng tangan  dengan kekuatan iman, kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi, kekuatan ekonomi dan amal nyata. Wallohu a’lamu.