Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Rupiah  Bisa Diamuk Dolar, Ingat Hidup Jangan Boros

NS/RN | Selasa, 14 September 2021 - 14:30 WIB
Rupiah  Bisa Diamuk Dolar, Ingat Hidup Jangan Boros
Ilustrasi
-

RN - Rupiah di ujung tanduk. Sebab, bisa saja nilai tukar rupiah bakal tergerus dengan dolar Amerika Serikat (AS).

Kini Bank Indonesia (BI) semakin intens memantau kondisi Amerika Serikat (AS). Masa kelam itu adalah 2013 saat terjadinya taper tantrum akibat kebijakan tapering off oleh Bank Sentral AS Federal Reserve (the Fed).

Di akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp 9.790/US$ sementara pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp 14.730/US$, artinya terjadi pelemahan lebih dari 50%.

BERITA TERKAIT :
Restoran Dan Kafe Bisa Buka Hingga Jam 12 Malam, Pengusaha: Terima Kasih Pak Gubernur DKI
Anies Serius Bangkitkan Ekonomi Jakarta, Ini Fakta Yang Diungkap Rekan Indonesia

Kini isu tapering kembali muncul ketika para pejabat elite bank sentral AS (The Fed) menunjukkan indikasi ingin segera melakukan pengurangan pembelian aset atau tapering.

"Kita semua paham tapering off itu kemungkinan dilakukan di November 2021 ini, walaupun memang bertahap oleh the Fed. Itu pun kami sudah antisipasi," ungkap Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti saat rapat dengan Komisi XI, Selasa (14/9/2021).

"Karena dengan adanya tapering off market itu mulai bergejolak, kita liat tekanan ke mata uang emerging market mulai tinggi. Ini terus kami waspadai dalam rangka jaga stabilitas nilai tukar," jelasnya.

Destry meyakini, rupiah dapat terjaga stabil meskipun tapering dimulai. Di samping komunikasi the Fed yang semakin baik dan tidak mendorong kepanikan, indikasinya terlihat dari fundamental ekonomi Indonesia yang jauh lebih baik.

Sederet amunisi juga BI siapkan, mulai dari intervensi langsung di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Pada saat itu kita belum punya instrumen keuangan yang lengkap dalam jaga stabilitas nilai tukar rupiah," tegas Destry.

#Dolar   #Ekonomi   #Rupiah