Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Jenazah Corona Terlantar, Ini Peringatan Buat Warga Depok Yang Sok Kebal 

NS/RN | Sabtu, 10 Juli 2021
Jenazah Corona Terlantar, Ini Peringatan Buat Warga Depok Yang Sok Kebal 
Ilustrasi PPKM darurat.
-

RN - Corona memang lagi meledak. Tapi, masih banyak warga Depok, Jawa Barat yang bandel dan tak taat prokes.

Lonjakan Corona membuat rumah sakit penuh. Untuk itulah, warga Depok wajib taat prokes dan mematuhi aturan PPKM darurat.

Kisah pilu dan viral sempat dialami seorang warga Depok berinisial AA (32). Pria pengidap down syndrome ini meninggal dunia setelah diduga memiliki kontak erat dengan keluarganya yang terkonfirmasi positif COVID-19.

BERITA TERKAIT :
Sikapi Kondisi Pasien Koma Usai Menjalankan Operasi, Begini Penjelasan RSUD Kota Bekasi
Corona Depok Makin Ganas, Banyak Yang Mendadak Meriang Dan Flu 

Ironisnya, korban tidak mendapatkan pelayanan puskesmas selama sakit. Bahkan jenazah korban sempat telantar selama beberapa jam lantaran tidak ada petugas yang datang untuk mengurus pemulasaraan jenazah.

Kakak ipar AA, Edwin, menjelaskan, awalnya dirinya dan istrinya dinyatakan positif COVID-19 setelah memeriksakan diri di sebuah klinik di Depok pada 21 Juni lalu. Keduanya menjalani isolasi mandiri (isoman) pada 22 Juni hingga 6 Juli 2021.

"Malamnya saya berkoordinasi dengan RT setempat untuk kasih tahu kami terkonfirmasi positif. Besoknya kita juga koordinasi dengan Satgas COVID Pak Dadang, kemudian kita diarahkan untuk ke Pak Camat Pancoranmas, kemudian diarahkan ke puskesmas," jelas Edwin seperti dikutip detikcom, Jumat (10/7/2021).

Edwin kemudian melaporkan kondisinya ke puskesmas. Ia juga menjelaskan di rumah itu dia tinggal bersama anaknya yang berusia 8 tahun, ibunya, adiknya, dan kakaknya berikut 2 anaknya.

Edwin kemudian meminta pihak puskesmas datang untuk melakukan swab test kepada ibunya dan adiknya yang penderita down syndrome. Sayangnya, Edwin kurang mendapat pelayanan yang baik dari puskesmas.

"Nah, ibu kami kondisinya sudah sepuh dan karena beliau sudah patah kaki, makanya beliau duduk di kursi roda. Adik kami (AA) sendiri kondisinya down syndrome. Akhirnya setelah kami bicara dengan pihak puskesmas, kita nanya dari puskesmas bisa datang nggak ke rumah buat swab. Jawabannya lihat jadwal, cari waktu yang tepat dulu," katanya.