Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Virus Omicron Lebih Ganas Dari Delta, Yang Pernah Positif Bisa Keserang Lagi... 

NS/RN | Senin, 29 November 2021 - 18:02 WIB
Virus Omicron Lebih Ganas Dari Delta, Yang Pernah Positif Bisa Keserang Lagi... 
-

RN - Varian Omicron terbilang ganas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) buka suara usai heboh varian Omicron disebut lebih menular hingga memicu gejala parah ketimbang varian lainnya. 

"Data awal menunjukkan bahwa ada peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan, tetapi ini mungkin karena meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi, bukan akibat infeksi spesifik dengan Omicron," katanya.

Satu hal yang sudah dipastikan adalah varian Omicron bisa memicu orang mengalami reinfeksi. Artinya, yang sudah terpapar COVID-19 bisa kembali tertular.

BERITA TERKAIT :
Ya Allah, Jangan Sampai Sekolah Di Jakarta Jadi Sarang Omicron 
Ganjil Genap Mau Dihapus, Jebakan Apa Usulan Nih? 

Risiko ini memang lebih tinggi pada varian Omicron dibandingkan varian lainnya. Para pakar belakangan mengkhawatirkan varian Omicron lantaran langsung menempati kategori variant of concern, kriteria varian paling mengkhawatirkan.

WHO juga memastikan tengah bekerja sama dengan para ahli teknis untuk melihat lebih jauh dampak dari varian Omicron. Termasuk apakah vaksin COVID-19 kini menjadi kurang efektif.

"Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala yang terkait dengan Omicron berbeda dari varian lain," kata WHO.

"Infeksi awal yang dilaporkan termasuk di antara studi universitas, individu yang lebih muda memang cenderung memiliki penyakit yang lebih ringan, tetapi memahami tingkat keparahan varian Omicron akan memakan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu," katanya.

WHO juga memastikan tes PCR sejauh ini masih efektif mendeteksi infeksi COVID-19 dengan varian Omicron. Namun, para ahli terus memantau apakah ada dampak pada efektivitas rapid test antigen.

"Penelitian sedang berlangsung untuk menentukan apakah ada dampak pada tes deteksi antigen cepat," kata WHO.