Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Usai Sidang MPR, Anies Bicara Soal Pejuang Intelektual Yang Terbiasa Debat dan Dikritik

SN/HW | Selasa, 17 Agustus 2021 - 07:39 WIB
Usai Sidang MPR, Anies Bicara Soal Pejuang Intelektual Yang Terbiasa Debat dan Dikritik
-

RN - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, para perintis kemerdekaan Indonesia merupakan intelektual pejuang. Hal itu diucapkan Anies usai mengikuti sidang Tahunan MPR bersama Presiden RI Joko Widodo pada Senin, (16/8).

Dalam unggahan instagramnya, Anies menyampaikan bahwa disela acara sidang tersebut, dirinya menyempatkan membaca sejumlah buku yang berderet di perpustakaan rumahnya.

"Pagi tadi di jeda antara dua sidang setelah mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden di sidang Tahunan MPR, dan menunggu dimulainya Sidang Tahunan DPR," ujar Anies dalam instagram miliknya dikutip pada Selasa, (17/8/2021).

BERITA TERKAIT :
Pemprov DKI Salurkan Bantuan Logistik ke Warga Terdampak Banjir
Akses Rumah Sakit Terhambat Penyekatan Jalur, Komunikolog: Anies Harus Bersikap, Ini Soal Nyawa Pasien

"Mereka bekerja dengan memiliki pemikiran yang matang, semua punya gagasan. Artikulasi dalam lisan dan tulisan mencerminkan bobot keterbukaan dan keluasan pandangan," lanjutnya.

Menariknya, kata Anies, mereka berlatarbelakang keluarga papan atas di masa kolonial, sehingga dapat kesempatan sekolah. Tapi mereka memilih untuk mendirikan sebuah republik yang bukan hanya untuk kaum papan atas.

"Mendirikan republik yang memberikan kesempatan setara pada siapa saja. Saya buka sebuah buku karya Jendral Besar AH Nasution, berkisah tentang perjuangan fisik sesudah proklamasi," katanya.

Menurut Anies, merebut kemerdekaan adalah perjuangan intelektual, perjuangan politik. Sesudah merdeka, lanjut Anies, barulah mulai ada peperangan untuk mempertahankan kemerdekaan.

"Menyelami kembali buku-buku ini terasa benar bahwa mereka adalah politisi berkapasitas intelektual tinggi. Pikiran-pikirannya mewarnai kebijakan. Wajar jika mereka terbiasa dengan debat dan bahkan kritik," tegasnya.

Lebih lanjut Anies mengatakan, pertukaran pikiran adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk kemajuan negara. Di dinding perpustakaan, tambah Anies, terpampang lukisan Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka berdualah yang berdiri di depan mikrofon memproklamasikan kemerdekaan.

"Tapi di balik mereka berdua ada ratusan, bahkan ribuan, orang Perintis Kemerdekaan yg berjuang lintas waktu hingga kita bisa merdeka. Peristiwa Kebangkitan Nasional 1908 ke Sumpah Pemuda 1928 adalah 20 tahun lamanya. Dari tahun 1928 ke 1945 adalah 17 tahun lamanya," terangnya.

Bagi kita sekarang, ucap Anies, rentang waktu perjuangan 20 tahun atau 17 tahun bisa diceritakan dalam waktu 10 menit saja.
Tapi Ingatlah, pesan Anies, bagi yang berjuang; masa 17 tahun itu sangat panjang.

"Mari kita terus ingat dan camkan bahwa kemerdekaan itu bukan sekedar untuk menggulung kolonialisme, kemerdekaan itu adalah untuk menggelar keadilan sosial dan kesejahteraan," tuturnya.

"Ini tugas kita bersama untuk menuntaskannya. Dirgahayu Republik Indonesia!," pungkasnya.