Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Tarif Dagang Donald Trump, DPR Kirim Sinyal Badai PHK 

RN/NS | Sabtu, 05 April 2025
Tarif Dagang Donald Trump, DPR Kirim Sinyal Badai PHK 
Ilustrasi
-

RN - Kenaikan tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump mau tidak mau akan berdampak. Yang ngeri adalah badai PHK yang bisa terjadi. 

Selain itu, adanya kenaikan inflasi di dalam negeri. Terlebih saat ini, rupiah juga terus terkontraksi ke Rp16.675 per dolar, meski BI sudah intervensi dengan lebih dari USD 4,5 miliar cadangan devisa.

Walau begitu, Presiden Prabowo sudah punya tips jitu untuk menghadang perang dagang AS. Kebijakan yang memicu perang dagang itu tak terhindarkan baik Indonesia maupun negara anggota ASEAN.

BERITA TERKAIT :
Xi Jinping Balas Trump, Kenakan Tarif 34 Persen Semua Barang Impor Dari AS 

Dalam daftar tarif baru itu, Indonesia duduk di posisi ke-6 di ASEAN dengan besaran tarif baru sebesar 32 persen.

Pada posisi pertama, ada Kamboja dengan tarif baru tertinggi sebesar 49 persen. Disusul Laos di posisi kedua dengan tarif baru di angka 48 persen.

Lalu duduk di urutan ketiga, Vietnam dengan tarif baru sebesar 46 persen. Posisi keempat diisi oleh Myanmar dengan angka 44 persen.

Sementara itu, negara yang berada di bawah Indonesia ialah Brunei dan Malaysia dengan besaran tarif baru yang sama yakni, 24 persen.

Lalu di bawahnya ada Filipina dengan 17 persen, dan negara ASEAN yang mendapatkan besaran tarif baru terendah ialah Singapura di angka 10 persen.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Hanif Dhakiri mengingatkan sejumlah dampak buruk terhadap ekonomi dalam negeri imbas tarif baru yang dikenakan Presiden AS, Donald Trump terhadap produk Indonesia.

Hanif menilai kenaikan tarif bisa berpotensi terhadap kenaikan inflasi dan menurunnya daya beli masyarakat. Dampak itu belum termasuk pada potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meluas.

"Dampak tarif baru AS bisa meluas kalau tidak segera direspon memadai, seperti ekspor yang turun, PHK meningkat, inflasi naik, dan daya beli melemah," kata Hanif dalam keterangannya, Kamis (3/4).

Dia karena itu meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis. Terlebih saat ini, rupiah juga terus terkontraksi ke Rp16.675 per dolar, meski BI sudah intervensi dengan lebih dari USD 4,5 miliar cadangan devisa.

"Strategi moneter sangat penting yang tepat sangat penting. Tapi kalau strategi fiskal dan sektor riil tak diperkuat, ekonomi kita bisa limbung," katanya.

Per 2 April lalu, AS resmi memberlakukan tarif dasar 10 persen plus tambahan 32 persen untuk Indonesia. Ekspor Indonesia ke AS tahun lalu mencapai USD 31 miliar (sekitar Rp500 triliun), dengan produk utama seperti alas kaki, tekstil, minyak nabati, dan alat listrik.

Dunia Lagi Lesu 

Sementara Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan tarif baru AS merupakan risiko signifikan bagi prospek global dan mendesak Washington bekerja sama dengan mitra dagangnya.

Pernyataan tersebut merupakan yang pertama dari kepala IMF setelah serangan tarif global terbaru Presiden Donald Trump memperdalam perang dagang yang dikhawatirkan banyak pihak mengundang resesi global dan memicu inflasi.

"Tarif jelas merupakan risiko signifikan bagi prospek global di saat pertumbuhan ekonomi sedang lesu," kata Bos IMF itu dalam sebuah pernyataan seperti diberitakan AFP, Jumat (4/4).

"Penting untuk menghindari langkah-langkah yang dapat semakin merugikan ekonomi dunia," tambah Georgieva.

"Kami mengimbau Amerika Serikat dan mitra dagangnya untuk bekerja sama secara konstruktif guna menyelesaikan ketegangan perdagangan dan mengurangi ketidakpastian".

Lembaga yang berpusat di Washington tersebut pada Januari 2025 mengatakan pertumbuhan global diperkirakan mencapai 3,3 persen tahun ini.

Angka tersebut berada di bawah tingkat pertumbuhan global rata-rata dalam dua dekade pertama abad ke-21 sebesar 3,7 persen.

IMF akan menerbitkan prospek barunya akhir April 2025, bertepatan dengan Pertemuan Musim Semi di Washington, yang mana serangan tarif perdagangan AS yang belum pernah terjadi sebelumnya akan menjadi agenda utama.