Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Alhamdulillah, Sri Mulyani Pede Lawan Perang Dagang Donald Trump 

RN/NS | Minggu, 16 Maret 2025
Alhamdulillah, Sri Mulyani Pede Lawan Perang Dagang Donald Trump 
Menkeu Sri Mulyani.
-

RN - Disaat dunia ketar-ketir dengan kebijakan dagang Presiden AS Doanld Trump, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pede. 

Dia menegaskan di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat perang dagang yang dilancarkan AS, ekonomi Indonesia diyakini masih kuat.

"Perang dagang melalui kenaikan tarif diterapkan Amerika Serikat (AS) terhadap negara-negara yang dulu adalah sekutu: Canada, Eropa, Mexico dan juga terhadap RRT, menimbulkan reaksi retaliasi dan resiprokalitas," ujar Sri Mulyani dikutip dari Instagram resminya @smindrawati, Sabtu (15/3/2025).

BERITA TERKAIT :
Rano Karno Sebut Ekonomi Warga Jakarta Lagi Turun
Indonesia Masuk Daftar Penghambat Perdagangan AS, Total Ada 58 Negara 

"Setiap negara harus bekerja keras melindungi kedaulatan dan kepentingan masing-masing - tidak terkecuali Indonesia," tegasnya lagi.

Menurut Sri Mulyani di tengah eskalasi perang dagang , ekonomi Indonesia masih mampu bertahan positif. Kondisi ini terbukti dari hasil kinerja pertumbuhan ekonomi sepanjang 2024 yang masih di atas 5%.

Kemudian angka inflasi rendah dan Neraca Pembayaran 2024 surplus US$ 7,2 miliar atau naik 14,2% dari tahun sebelumnya menjadi petunjuk lain bahwa ekonomi RI masih baik-baik saja.

"Posisi Keseimbangan tetap baik dengan surplus Neraca Perdagangan Januari 2025 naik 78% (US$ 1,5 milyar ) dibanding tahun 2024 hingga mencapai US$ 3,5 miliar," terang Sri Mulyani

Bendahara negara ini juga menyampaikan APBN hingga Februari 2025 defisit sebesar Rp 31,2 triliun. Kondisi ini terjadi lantaran penerimaan negara masih lebih kecil daripada pengeluarannya.

Pendapatan negara per Februari 2025 baru mencapai Rp 316,9 triliun atau 10,5% target. Sedangkan untuk belanja negara di dua bulan pertama 2025 sudah mencapai Rp 348,1 triliun atau 9,6% dari pagu anggaran.

Sri Mulyani mengatakan sampai saat ini penerimaan memang masih mengalami perlambatan, terutama karena moderasi harga komoditas. Namun berbagai inisiatif strategis dan perbaikan administratif terus dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan penerimaan negara.

"Belanja negara tetap on track, dengan efisiensi, namun tetap menjaga belanja bantuan sosial dan kepentingan serta kebutuhan rakyat. APBN tetap agile sebagai instrumen penting untuk menjaga kinerja ekonomi serta mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.

Target Dagang 

Mabk Sri sapaan akrab Sri Mulyani sebelumnya mengungkapkan Indonesia bisa menjadi negara ke-15 yang akan menjadi target kebijakan tarif tinggi dari Presiden AS Donald Trump.

Ia melihat sasaran target tarif tinggi dari Trump mengacu pada negara-negara yang membuat neraca dagang AS defisit. China menjadi incaran nomor satu Negeri Paman Sam, sedangkan Indonesia berada di posisi ke-15.

"Negara-negara yang punya surplus besar (terhadap AS), Tiongkok (dan) Meksiko kena (tarif impor tinggi). Vietnam yang kemarin datang ke Indonesia, ini (juga) akan menjadi target yang cukup nyata," katanya dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (13/3).

"Presiden Donald Trump mengincar negara-negara yang memiliki surplus terhadap Amerika atau Amerika defisit terhadap negara tersebut ... Kalau diberlakukan kebijakan tarif kepada semua negara surplus, Indonesia ada di ranking ke-15," wanti-wanti Sri Mulyani.

Wanita yang akrab disapa Ani itu menegaskan sekarang memasuki era perang dagang alias perang ekonomi. Ia menyebut semula ada aturan main dalam perdagangan global, tapi sekarang bisa diubah sepihak oleh salah satu negara.

Bendahara Negara menekankan hal ini akan terjadi usai Trump kembali ke Gedung Putih sebagai orang nomor satu di AS. Sri Mulyani mengatakan bukan hanya China yang menjadi sasaran empuk Trump, bahkan negara sahabat Amerika pun kena getahnya.

Sri Mulyani merasa istilah negara teman atau sahabat sudah tidak relevan. Ia mencontohkan bagaimana Kanada yang selama ini dekat dengan AS juga kena sikat Donald Trump.

"Bagaimana kurang friend Amerika dan Kanada itu? Jadi tadinya disebutkan, 'Oh, kalau kamu berteman, kita aman'. Ternyata, definisi friends tidak ada lagi di dalam konteks hari ini," klaim Ani.

"Ini menimbulkan semua negara berpikir peta dunia dari sisi ekonomi seperti apa. Keputusan mengenai investasi, relokasi, dan juga rekonfigurasi dari rantai pasok," sambungnya.

Jika benar Indonesia disikat Trump, ia mengatakan dampaknya adalah pembengkakan biaya supply chain di sektor manufaktur serta sektor digital. Ada juga ancaman disrupsi rantai pasok, volatilitas harga komoditas, dan terayun-ayunnya sentimen market.

Anak buah Presiden Prabowo Subianto itu menilai blok ekonomi alternatif lain bakal menjadi opsi. Ini meliputi kelompok negara-negara Asia Tenggara sampai blok ekonomi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS).

Meski begitu, Sri Mulyani mengakui upaya untuk bersaing dengan Amerika Serikat akan menghadapi sejumlah kendala.

"Ini (blok ekonomi) menjadi memiliki alasan untuk makin bisa tumbuh dan menjadi alternatif. Meskipun, dalam hal ini tentu karena AS adalah negara paling besar di dunia, pasti yang dilakukan mereka mempengaruhi seluruh dunia juga," tutupnya.