Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co

Kadisdik Kota Bekasi Lempar Bola Terkait Dugaan Pungutan Uang Kaos Tari Gema Nusa Patriot

Ricky Jelly | Rabu, 21 November 2018
Kadisdik Kota Bekasi Lempar Bola Terkait Dugaan Pungutan Uang Kaos Tari Gema Nusa Patriot
Kadisdik Kota Bekasi, Ali Fauzi
-

RADAR NONSTOP - Dugaan pungutan uang siswa TK, SDN dan SMPN se-Kota Bekasi gaduh. Sebab, pungutan Rp 70 ribu persiswa memberatkan orangtua murid.

Diketahui, pungutan dilakukan oleh oknum panitia, untuk acara Rekor Muri dengan judul Gema Nusa Patriot Art Festival 2018. Acara ini akan dihibur dengan tarian Ronggeng Menor, pada Minggu (25/11) dan dibarengi oleh Car Free Day di Jalan Boulevard Selatan (Pasar Sinpasa) Kota Bekasi.

Sementara Itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ali Fauzi ketika dikonfirmasi melalui WA (whatsapp) terkait surat yang beredar dengan nomor surat 421/79026-Disdik.Dikdas menjelaskan, rekom tersebut tidak berkaitan dengan pungutan.

"Sebaiknya anda tanyakan ke Panitia kebenaran tersebut," jawab Ali kepada Radar Nonstop (Rakyat Merdeka Grup), Rabu (21/11).

Sampai berita ini diturunkan panitia penyelenggara belum bisa memberikan komentarnya.

Acara Gema Nusa Patriot Arts Festival 2018 yang akan digelar hari Minggu tanggal 25 November 2018 di acara Car Free Day Summarecon direncanakan akan menampilkan tarian kolosal khas Betawi 'Ronggeng Montok' melibatkan 1500 pelajar se Kota Bekasi.

Namun, karena panitia memungut pembayaran uang kaos bagi peserta sebesar Rp 70 ribu per siswa. Hal ini dinilai memberatkan orang tua siswa.

"Iya, saya diminta membayar uang kaos seharga Rp 70 ribu persiswa di acara Rekor Muri tarian daerah itu. Acaranya hari Minggu tanggal 25 November 2018 di Car Free Day Summarecon." ujar Emi salah satu orang tua siswa di sekolah swasta di Kota Bekasi, Senin (19/11).

Menurut dia, dampak manfaat bagi siswa di sekolah dengan kegiatan itu apakah ada?. Apalagi katanya, bagi siswa kelas III yang akan ujian kelulusan tentu banyak biaya yang dikeluarkan.

"Seharusnya panitia menggratiskan kegiatan itu. Jangan malah membebankan kepada orang tua. Kan bisa cari sponsor ke perusahaan," kata ibu tiga orang putra ini.

Senada dikatakan Sari (41). Dirinya merasa kecewa dengan pihak panitia. Dan menilai bahwa acara itu murni bisnis yang dikemas budaya.

"Ah itu mah bisnis aja. Tarian mah cuma kedok doang buat nyari untung aja. Coba aja kalo satu orang Rp70 ribu di kali 1500 orang, lah udah ratusan juta," ucap wanita yang mengaku tinggal di Kanji, Bekasi Barat. (*)

BERITA TERKAIT :