Berita Indonesia terkini politik, ekonomi, megapolitan , Politik, senayan, nasional balaikota, olahraga, lifestyle dan hiburan ditulis lengkap dan mendalam - Radarnonstop.co
Berada di Ketinggian 500-1.400 MDPL

Jeneponto Layak Menjadi Sentra Hortikultura di Sulsel

Zaber Lubis | Jumat, 21 September 2018 - 11:17 WIB
Jeneponto Layak Menjadi Sentra Hortikultura di Sulsel
-

RADAR NONSTOP, JENEPONTO - Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, layak menjadi sentra hortikultura, khususnya komoditas sayur dan buah. Sebab, topografi bagian utara merupakan dataran tinggi dengan ketinggian 500-1.400 meter di atas permukaan laut.

Tak ayal, Jeneponto menjadi penghasil terbesar kedua bawang merah di Sulsel, setelah Enrekang. Produknya, sudah dipasarkan ke Kalimantan dan Kendari.  

"Namun, masih terkendala permodalan dan alat mesin pertanian, seperti cultivator.  Saat ini, satu unit cultivator untuk satu petani. Berarti, satu cultivator untuk lima hektare lahan. Terdapat tujuh orang penangkar benih bawang merah dan sudah menerima permintaan dari Kabupaten Takalar, Gowa, Bone, Maros, Pinrang, Barru, dan Enrekang," ujar Kepala Bidang Hortikultura Jeneponto, Ahmad, Kamis (20/9/2018).

BERITA TERKAIT :
Mau Beli Vaksin Di Prancis, PMK Jangan Jadi Ajang Mumpung Dong 
Penyakit Mulut dan Kuku Mewabah Bikin Cemas Peternak, Mentan Syahrul Ngapain Saja?

Selain bawang merah, cabai menjadi komoditas andalan Jeneponto dengan produksi 139 ton per bulan. Distribusinya, hingga ke supermarket di Kota Makassar dan diekspor ke Singapura.

Salah seorang petani di Desa Bontotiro, Kecamatan Rumbia, Abdul Rahman, menerangkan, dirinya telah mengembangkan bawang merah dataran tinggi dan cabai. Pola budi daya bawang merah menerapkan pertanian ramah lingkungan.  

"Bawang merah ini sudah melalui sertifikasi prima tiga dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Provinsi Sulawesi Selatan dan sedang dipersiapkan untuk menuju prima dua," jelasnya.

Kelompok Tani Moncong Kallang 3 sendiri mendapatkan bantuan melalui program Pengembangan Desa Organik dari Direktorat Perlindungan Hortikultura Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian pada 2018.

Potensi memproduksi sayuran organik cukup besar, mengingat petani setempat mudah menerima edukasi dan inovasi. Tantangannya, memperbaiki pengemasan dan sarana olahan untuk pengembangan industri rumah tangga. 

"Diharapkan program sertifikasi seperti prima tiga dan dua, dan ke depan sedang mempersiapkan pertanian organik," ucap Kepala Dinas Hortikultura Dinas Pertanian dan Hortikultura Sulsel, Farida Diah, terpisah.

Dia melanjutkan, diperlukan juga promosi lebih masif tentang mutu produk, agar semua lapisan masyarakat menyadari pentingnya mengonsumsi produk bermutu.